Kupas Metode Inventory untuk Bisnis Ritel Hingga Contohnya!

Metode inventory atau manajemen persediaan merupakan sebuah aspek penting yang harus diperhatikan dalam menjalankan sebuah bisnis, khususnya bagi bisnis ritel. Hal ini karena metode inventory melibatkan proses pengelolaan stok barang atau persediaan barang di gudang. Jika pelanggan tidak bisa mendapatkan barang yang diinginkan karena kehabisan persediaan, tentu akan berdampak pada menurunnya penjualan bisnis Anda. 

Oleh karena itu, pengelolaan metode inventory bisnis ritel perlu diawasi dengan baik agar kendala dalam bisnis ritel dapat teratasi. Berikut ini akan dikupas lebih dalam mengenai metode inventory untuk bisnis ritel hingga contohnya untuk pengendalian persediaan dalam usaha ritel, yuk, simak!

Baca juga: Mengenal Klasifikasi Bisnis Ritel Lebih Dalam dan Jenis-Jenisnya

Salah kirim barang, pembeli bisa garang!

Gak mau dapat komplain kan? Makanya, pakai jasa Ginee WMS biar gudang rapi dan gak salah kirim barang ke pembeli!

Apa yang Dimaksud dengan Metode Persediaan Retail?

Metode persediaan ritel adalah metode akuntansi yang digunakan untuk memperkirakan nilai barang dagangan toko. Metode ini berfungsi untuk memperhitungkan harga pokok dagangan, harga eceran, serta penjualan untuk menentukan saldo persediaan akhir sebuah toko. 

Persediaan akhir merupakan nilai persediaan Anda yang tersisa untuk dijual pada akhir periode. Namun, metode manajemen persediaan barang dalam bisnis retail ini hanya dapat memberikan perkiraan nilai inventaris saja karena beberapa barang dagangan dapat hilang, rusak, atau dicuri, sehingga Anda mungkin perlu untuk melakukan perhitungan inventaris fisik agar data yang didapat lebih akurat.

Baca juga: 7 Kegunaan Manajemen Inventory dalam Bisnis Ritel Anda

Manfaat dari Metode Persediaan Retail

Terdapat beberapa manfaat dari metode pencatatan persediaan yang bisa Anda peroleh di antaranya:

  • Tidak memerlukan inventaris fisik: dalam memperkirakan nilai inventaris, Anda tidak perlu memeriksa ketersediaan barang secara fisik.
  • Menawarkan proses yang sederhana: proses pemeriksaan inventaris menawarkan proses yang sederhana serta tidak memakan banyak waktu maupun biaya.
  • Membantu membuat laporan nilai inventaris.

Cara Menggunakan Metode Persediaan Retail

Berikut ini langkah menghitung nilai persediaan akhir bisnis retail menggunakan metode eceran, yaitu:

Menghitung Rasio Cost to Retail

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah dengan menentukan cost to retail dari inventaris ritel Anda. Anda perlu mengetahui berapa harga pembelian grosir untuk produk Anda, serta berapa banyak Anda akan menjualnya. Untuk menghitungnya, Anda dapat menggunakan rumus berikut:

Presentase cost to retail = (harga pokok barang dagangan/harga eceran) X 100.

Jadi, misalnya Anda membeli barang dagangan seharga Rp. 40.000, lalu menjual barang tersebut seharga Rp. 100.000, maka, persentase cost to retail Anda adalah 40%.

Menghitung Harga Pokok Barang Dagangan yang Tersedia untuk Dijual

Jika Anda ingin memperkirakan nilai inventaris Anda dengan menggunakan metode inventory ritel, Anda perlu menentukan periode waktu yang akan Anda gunakan untuk pelaporan. Setelah itu, Anda perlu mengidentifikasi biaya inventaris pada awal periode waktu yang telah ditentukan. Untuk menghitung harga pokok barang dagangan yang tersedia untuk dijual, Anda dapat menggunakan rumus berikut ini:

Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual = biaya persediaan awal Anda + biaya pembelian.

Misalnya, toko Anda memiliki persediaan awal barang sebesar Rp. 15.000.000, kemudian Anda membeli barang dagangan baru senilai Rp. 25.000. Lalu, jumlahkan biaya persediaan awal Anda dengan biaya pembelian, sehingga harga pokok barang dagangan yang tersedia untuk dijual adalah sebesar Rp. 40.000.000.

Menghitung Harga Pokok Penjualan Selama Periode Tertentu

Setelah menentukan harga pokok barang yang tersedia, Anda membutuhkan jumlah total penjualan barang dagangan dari jangka waktu yang telah Anda pilih, serta persentase cost to retail Anda. Anda dapat menggunakan informasi tersebut untuk menentukan harga pokok penjualan yang mewakili total pengeluaran untuk menjual barang dagangan Anda. 

Untuk memperkirakan total penjualan Anda selama periode pelaporan, Anda dapat menggunakan rumus berikut ini:

Biaya penjualan = penjualan selama periode X persentase cost to retail.

Misalnya, persentase cost to retail Anda adalah 40%. Katakanlah, selama periode pelaporan tersebut, Anda memiliki penjualan sebesar Rp. 68.000.000. Maka, kalikan persentase cost to retail Anda dengan penjualan, sehingga, biaya penjualan Anda adalah sebesar Rp. 27.200.000.

Menghitung Persediaan Akhir

Setelah berhasil menghitung harga pokok barang dagangan yang tersedia untuk dijual, serta harga pokok penjualan selama periode yang telah ditentukan, langkah selanjutnya adalah dengan menentukan persediaan akhir Anda. Persediaan akhir menunjukan nilai barang dagangan yang tersisa pada akhir periode pelaporan.

Untuk dapat menentukan nilai persediaan akhir Anda, Anda perlu menggunakan rumus berikut ini:

Persediaan akhir = harga pokok barang yang tersedia untuk dijual – harga pokok penjualan selama periode tersebut.

Misalnya, Anda menentukan bahwa harga pokok penjualan adalah Rp. 40.000.000 dan biaya penjualan selama periode pelaporan adalah Rp. 27.200.000. Maka, jumlah harga pokok penjualan selama periode tersebut dikurangi dengan harga pokok barang yang tersedia untuk dijual, yaitu Rp. 27.200.000 dikurang Rp. 40.000.000, sehingga menghasilkan nilai persediaan akhir sebesar Rp. 12.800.000.

Cara Memprediksi Kebutuhan Inventaris untuk Bisnis Ritel

Memprediksi kebutuhan inventaris merupakan salah satu bentuk analisis yang paling rumit dan kompleks. Sebab, Anda harus dapat memastikan bahwa perkiraan Anda tepat, tidak kurang atau tidak lebih. Lantas, untuk perusahaan ritel metode apa yang paling cocok? Yuk, simak!

Kualitatif

Menggunakan metode kualitatif berarti memprediksi kebutuhan inventaris dengan bergantung pada hasil pemikiran karyawan atau konsultan yang telah berpengalaman untuk memperhitungkan berbagai aspek yang memengaruhi permintaan di masa mendatang.

Barang gudang numpuk, hati-hati salah kirim!

Jangan sampai salah kirim produk ke pembeli karena kelola gudang gak beres! Atur gudang dengan bantuan Ginee!

Analisis Deret Waktu

Metode analisis deret waktu menggunakan data historis untuk menganalisis tren. Anda perlu menggunakan pendekatan analitis untuk dapat melacak penjualan, persediaan, dan permintaan untuk dapat memprediksi kebutuhan inventaris Anda secara akurat.

Kausal

Metode kausal merupakan metode pencatatan persediaan barang dagang yang paling kompleks karena menggunakan berbagai informasi spesifik yang berkaitan dengan hubungan antar variabel yang mempengaruhi permintaan pasar, seperti kekuatan ekonomi, kompetitor, serta faktor sosial ekonomi lainnya. 

Contohnya, Jika Anda menjual baju, maka Anda dapat melihat faktor-faktor seperti data riwayat penjualan, anggaran pemasaran, harga kompetitor, kegiatan promosi, dan lain sebagainya.

Simulasi

Metode simulasi meliputi penggunaan seluruh metode perhitungan persediaan, baik kualitatif maupun kuantitatif untuk memberikan wawasan yang lebih menyeluruh. Namun, metode ini merupakan jenis metode yang paling rumit untuk dilakukan, karena Anda juga harus memperhitungkan faktor internal dan eksternal.

Contoh Metode Persediaan Eceran

Berikut ini contoh soal metode ritel serta cara menggunakan metode eceran dalam persediaan sebagai langkah memperkirakan nilai persediaan akhir Anda. Yuk, simak!

Katakanlah, Anda ingin menentukan nilai persediaan akhir Anda untuk periode pelaporan selama tiga bulan. Anda menjual sabun cuci tangan seharga Rp. 8.000, dan membelinya dengan harga grosir sebesar Rp. 1.500. Maka, untuk dapat menentukan persentase biaya ecerannya dapat menggunakan rumus berikut:

(Rp. 1.500 / Rp. 8.000) X 100 = 18,75%.

Kemudian, selama periode tiga bulan tersebut, Anda memiliki persediaan awal sebesar Rp. 3.000.000 dan menghasilkan Rp. 5.000.000 dalam pembelian persediaan tambahan. Lalu, untuk menentukan harga pokok barang dagangan yang tersedia untuk dijual, dapat dilakukan dengan menjumlahkan keduanya sehingga harga yang didapat adalah:

Rp. 3.000.000 + Rp. 5.000.000 = Rp. 8.000.000.

Anda juga mengetahui bahwa Anda telah menghasilkan Rp. 12.000.000 dalam penjualan selama periode pelaporan tiga bulan. Lalu, Anda dapat mengalikan total penjualan dan persentase biaya eceran untuk dapat menghitung biaya penjualan sebagai berikut:

18.75% X Rp. 12.000.000 = Rp. 2.250.000.

Untuk dapat menghitung persediaan akhir selama periode pelaporan tiga bulan, Anda dapat melakukannya dengan mengurangi biaya penjualan yaitu Rp. 2.250.000 dengan biaya barang dagangan yang tersedia untuk dijual sebesar Rp. 8.000.000. Sehingga, persediaan akhirnya memiliki nilai Rp. 5.750.000.

Ayo, Kelola Metode Inventory Bisnis Anda bersama Ginee WMS!

Menggunakan metode inventory dalam bisnis ritel memang bukan sebuah perkara yang mudah, dibutuhkan pemahaman dan prose syang panjang agar metode inventori pada bisnis ritel Anda dapat berjalan dengan lancar. 

Namun, jika Anda memiliki kesulitan dalam mengelola perhitungan metode inventori Anda, maka, jangan khawatir, karena Anda dapat menggunakan fitur Ginee WMS dari Ginee Indonesia untuk membantu mengelola manajemen inventori bisnis ritel Anda!

Ginee WMS memiliki berbagai macam fitur yang bisa Anda manfaatkan untuk meningkatkan produktivitas gudang Anda, seperti manajemen pesanan, mengecek ketersediaan stok, proses pengambilan barang hingga pengiriman kepada konsumen dengan cepat dan mudah. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, coba Ginee WMS sekarang juga!

Duh, stok gudang berantakan…

Eits, jangan ngeluh lagi! Sekarang, ada Ginee WMS (Warehouse Management System) yang bakalan bantu kamu manajemen gudang mulai dari ngurusin stok, multi gudang, hingga logistik.

Can't handle your orders?
SHARE YOUR STRUGGLE HERE!

Guides

Kupas Metode Inventory untuk Bisnis Ritel Hingga Contohnya!

Metode inventory atau manajemen persediaan merupakan sebuah aspek penting yang harus diperhatikan dalam menjalankan sebuah bisnis, khususnya bagi bisnis ritel. Hal ini karena metode inventory melibatkan proses pengelolaan stok barang atau persediaan barang di gudang. Jika pelanggan tidak bisa mendapatkan barang yang diinginkan karena kehabisan persediaan, tentu akan berdampak pada menurunnya penjualan bisnis Anda. 

Oleh karena itu, pengelolaan metode inventory bisnis ritel perlu diawasi dengan baik agar kendala dalam bisnis ritel dapat teratasi. Berikut ini akan dikupas lebih dalam mengenai metode inventory untuk bisnis ritel hingga contohnya untuk pengendalian persediaan dalam usaha ritel, yuk, simak!

Baca juga: Mengenal Klasifikasi Bisnis Ritel Lebih Dalam dan Jenis-Jenisnya

Salah kirim barang, pembeli bisa garang!

Gak mau dapat komplain kan? Makanya, pakai jasa Ginee WMS biar gudang rapi dan gak salah kirim barang ke pembeli!

Apa yang Dimaksud dengan Metode Persediaan Retail?

Metode persediaan ritel adalah metode akuntansi yang digunakan untuk memperkirakan nilai barang dagangan toko. Metode ini berfungsi untuk memperhitungkan harga pokok dagangan, harga eceran, serta penjualan untuk menentukan saldo persediaan akhir sebuah toko. 

Persediaan akhir merupakan nilai persediaan Anda yang tersisa untuk dijual pada akhir periode. Namun, metode manajemen persediaan barang dalam bisnis retail ini hanya dapat memberikan perkiraan nilai inventaris saja karena beberapa barang dagangan dapat hilang, rusak, atau dicuri, sehingga Anda mungkin perlu untuk melakukan perhitungan inventaris fisik agar data yang didapat lebih akurat.

Baca juga: 7 Kegunaan Manajemen Inventory dalam Bisnis Ritel Anda

Manfaat dari Metode Persediaan Retail

Terdapat beberapa manfaat dari metode pencatatan persediaan yang bisa Anda peroleh di antaranya:

  • Tidak memerlukan inventaris fisik: dalam memperkirakan nilai inventaris, Anda tidak perlu memeriksa ketersediaan barang secara fisik.
  • Menawarkan proses yang sederhana: proses pemeriksaan inventaris menawarkan proses yang sederhana serta tidak memakan banyak waktu maupun biaya.
  • Membantu membuat laporan nilai inventaris.

Cara Menggunakan Metode Persediaan Retail

Berikut ini langkah menghitung nilai persediaan akhir bisnis retail menggunakan metode eceran, yaitu:

Menghitung Rasio Cost to Retail

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah dengan menentukan cost to retail dari inventaris ritel Anda. Anda perlu mengetahui berapa harga pembelian grosir untuk produk Anda, serta berapa banyak Anda akan menjualnya. Untuk menghitungnya, Anda dapat menggunakan rumus berikut:

Presentase cost to retail = (harga pokok barang dagangan/harga eceran) X 100.

Jadi, misalnya Anda membeli barang dagangan seharga Rp. 40.000, lalu menjual barang tersebut seharga Rp. 100.000, maka, persentase cost to retail Anda adalah 40%.

Menghitung Harga Pokok Barang Dagangan yang Tersedia untuk Dijual

Jika Anda ingin memperkirakan nilai inventaris Anda dengan menggunakan metode inventory ritel, Anda perlu menentukan periode waktu yang akan Anda gunakan untuk pelaporan. Setelah itu, Anda perlu mengidentifikasi biaya inventaris pada awal periode waktu yang telah ditentukan. Untuk menghitung harga pokok barang dagangan yang tersedia untuk dijual, Anda dapat menggunakan rumus berikut ini:

Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual = biaya persediaan awal Anda + biaya pembelian.

Misalnya, toko Anda memiliki persediaan awal barang sebesar Rp. 15.000.000, kemudian Anda membeli barang dagangan baru senilai Rp. 25.000. Lalu, jumlahkan biaya persediaan awal Anda dengan biaya pembelian, sehingga harga pokok barang dagangan yang tersedia untuk dijual adalah sebesar Rp. 40.000.000.

Menghitung Harga Pokok Penjualan Selama Periode Tertentu

Setelah menentukan harga pokok barang yang tersedia, Anda membutuhkan jumlah total penjualan barang dagangan dari jangka waktu yang telah Anda pilih, serta persentase cost to retail Anda. Anda dapat menggunakan informasi tersebut untuk menentukan harga pokok penjualan yang mewakili total pengeluaran untuk menjual barang dagangan Anda. 

Untuk memperkirakan total penjualan Anda selama periode pelaporan, Anda dapat menggunakan rumus berikut ini:

Biaya penjualan = penjualan selama periode X persentase cost to retail.

Misalnya, persentase cost to retail Anda adalah 40%. Katakanlah, selama periode pelaporan tersebut, Anda memiliki penjualan sebesar Rp. 68.000.000. Maka, kalikan persentase cost to retail Anda dengan penjualan, sehingga, biaya penjualan Anda adalah sebesar Rp. 27.200.000.

Menghitung Persediaan Akhir

Setelah berhasil menghitung harga pokok barang dagangan yang tersedia untuk dijual, serta harga pokok penjualan selama periode yang telah ditentukan, langkah selanjutnya adalah dengan menentukan persediaan akhir Anda. Persediaan akhir menunjukan nilai barang dagangan yang tersisa pada akhir periode pelaporan.

Untuk dapat menentukan nilai persediaan akhir Anda, Anda perlu menggunakan rumus berikut ini:

Persediaan akhir = harga pokok barang yang tersedia untuk dijual – harga pokok penjualan selama periode tersebut.

Misalnya, Anda menentukan bahwa harga pokok penjualan adalah Rp. 40.000.000 dan biaya penjualan selama periode pelaporan adalah Rp. 27.200.000. Maka, jumlah harga pokok penjualan selama periode tersebut dikurangi dengan harga pokok barang yang tersedia untuk dijual, yaitu Rp. 27.200.000 dikurang Rp. 40.000.000, sehingga menghasilkan nilai persediaan akhir sebesar Rp. 12.800.000.

Cara Memprediksi Kebutuhan Inventaris untuk Bisnis Ritel

Memprediksi kebutuhan inventaris merupakan salah satu bentuk analisis yang paling rumit dan kompleks. Sebab, Anda harus dapat memastikan bahwa perkiraan Anda tepat, tidak kurang atau tidak lebih. Lantas, untuk perusahaan ritel metode apa yang paling cocok? Yuk, simak!

Kualitatif

Menggunakan metode kualitatif berarti memprediksi kebutuhan inventaris dengan bergantung pada hasil pemikiran karyawan atau konsultan yang telah berpengalaman untuk memperhitungkan berbagai aspek yang memengaruhi permintaan di masa mendatang.

Barang gudang numpuk, hati-hati salah kirim!

Jangan sampai salah kirim produk ke pembeli karena kelola gudang gak beres! Atur gudang dengan bantuan Ginee!

Analisis Deret Waktu

Metode analisis deret waktu menggunakan data historis untuk menganalisis tren. Anda perlu menggunakan pendekatan analitis untuk dapat melacak penjualan, persediaan, dan permintaan untuk dapat memprediksi kebutuhan inventaris Anda secara akurat.

Kausal

Metode kausal merupakan metode pencatatan persediaan barang dagang yang paling kompleks karena menggunakan berbagai informasi spesifik yang berkaitan dengan hubungan antar variabel yang mempengaruhi permintaan pasar, seperti kekuatan ekonomi, kompetitor, serta faktor sosial ekonomi lainnya. 

Contohnya, Jika Anda menjual baju, maka Anda dapat melihat faktor-faktor seperti data riwayat penjualan, anggaran pemasaran, harga kompetitor, kegiatan promosi, dan lain sebagainya.

Simulasi

Metode simulasi meliputi penggunaan seluruh metode perhitungan persediaan, baik kualitatif maupun kuantitatif untuk memberikan wawasan yang lebih menyeluruh. Namun, metode ini merupakan jenis metode yang paling rumit untuk dilakukan, karena Anda juga harus memperhitungkan faktor internal dan eksternal.

Contoh Metode Persediaan Eceran

Berikut ini contoh soal metode ritel serta cara menggunakan metode eceran dalam persediaan sebagai langkah memperkirakan nilai persediaan akhir Anda. Yuk, simak!

Katakanlah, Anda ingin menentukan nilai persediaan akhir Anda untuk periode pelaporan selama tiga bulan. Anda menjual sabun cuci tangan seharga Rp. 8.000, dan membelinya dengan harga grosir sebesar Rp. 1.500. Maka, untuk dapat menentukan persentase biaya ecerannya dapat menggunakan rumus berikut:

(Rp. 1.500 / Rp. 8.000) X 100 = 18,75%.

Kemudian, selama periode tiga bulan tersebut, Anda memiliki persediaan awal sebesar Rp. 3.000.000 dan menghasilkan Rp. 5.000.000 dalam pembelian persediaan tambahan. Lalu, untuk menentukan harga pokok barang dagangan yang tersedia untuk dijual, dapat dilakukan dengan menjumlahkan keduanya sehingga harga yang didapat adalah:

Rp. 3.000.000 + Rp. 5.000.000 = Rp. 8.000.000.

Anda juga mengetahui bahwa Anda telah menghasilkan Rp. 12.000.000 dalam penjualan selama periode pelaporan tiga bulan. Lalu, Anda dapat mengalikan total penjualan dan persentase biaya eceran untuk dapat menghitung biaya penjualan sebagai berikut:

18.75% X Rp. 12.000.000 = Rp. 2.250.000.

Untuk dapat menghitung persediaan akhir selama periode pelaporan tiga bulan, Anda dapat melakukannya dengan mengurangi biaya penjualan yaitu Rp. 2.250.000 dengan biaya barang dagangan yang tersedia untuk dijual sebesar Rp. 8.000.000. Sehingga, persediaan akhirnya memiliki nilai Rp. 5.750.000.

Ayo, Kelola Metode Inventory Bisnis Anda bersama Ginee WMS!

Menggunakan metode inventory dalam bisnis ritel memang bukan sebuah perkara yang mudah, dibutuhkan pemahaman dan prose syang panjang agar metode inventori pada bisnis ritel Anda dapat berjalan dengan lancar. 

Namun, jika Anda memiliki kesulitan dalam mengelola perhitungan metode inventori Anda, maka, jangan khawatir, karena Anda dapat menggunakan fitur Ginee WMS dari Ginee Indonesia untuk membantu mengelola manajemen inventori bisnis ritel Anda!

Ginee WMS memiliki berbagai macam fitur yang bisa Anda manfaatkan untuk meningkatkan produktivitas gudang Anda, seperti manajemen pesanan, mengecek ketersediaan stok, proses pengambilan barang hingga pengiriman kepada konsumen dengan cepat dan mudah. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, coba Ginee WMS sekarang juga!

Duh, stok gudang berantakan…

Eits, jangan ngeluh lagi! Sekarang, ada Ginee WMS (Warehouse Management System) yang bakalan bantu kamu manajemen gudang mulai dari ngurusin stok, multi gudang, hingga logistik.

Ginee Insights

Purchase Order: Sumber Penerimaan Gudang yang Utama!

Purchase order merupakan salah satu sumber penerimaan barang gudang yang utama. Ingin tahu detailnya? Yuk, baca selengkapnya di artikel ini!

Pakai Auto Reply Tokopedia, Pelanggan Tidak Akan Dianggurin!

Fitur auto reply Tokpedia ternyata bermanfaat untuk bisnis, lho! Mau tahu lebih lanjut tentang fitur auto reply Tokopedia? Baca selengkapnya di sini!

Can't handle your orders?

SHARE YOUR STRUGGLE HERE!